Minggu, 06 Desember 2009
BangsaQ yg suka pake Citra Body Lotion untuk kecantikan
Gerakan mahasiswa memang saat ini mash lemah dan kurang mengigit.
Terikan untuk REVOLUSI harus diperkuat 9 Desember 2009.
Hidup Rakyat....................
Petaniq yg melarat.......
Derita Petani Miskin
“Melarate wis entek-entekan (miskinnya sudah habis-habisan),” demikian keluh seorang istri petani di sebuah desa di Lamongan Jatim, memaknai kehidupannya yang selalu terjerembab dalam perangkap kemiskinan. Begitulah gambaran kehidupan wong cilik yang semakin merana.
Maka alangkah tidak adilnya ketika APBN lebih banyak dihabiskan untuk membangun gedung-gedung kantor yang semakin mewah dan full AC, membeli mobil-mobil dinas yang makin mewah, menaikkan gaji pegawai, pejabat, dan anggota DPR/DPRD yang sudah jauh melampaui UMR. Sementara, orang kecil tertatih-tatih dalam derita.
Petani mau beli pupuk saja harus antre. Apa-apa antre; beli minyak, beli bensin. Cari makan setengah mati, makan nasi aking saja sudah syukur. Beli tahu tempe saja sudah susah. Semakin banyak balita dilanda gizi buruk, semakin banyak insan dilanda kelaparan.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rhoma Irama dalam syair lagu “Indonesia”:
“Seluruh harta kekayaan negara
Hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya
namun hatiku selalu bertanya-tanya
mengapa kehidupan tidak merata
Yang kaya makin kaya
yang miskin makin miskin.”
Jumat, 04 Desember 2009
'Century, Bank Apaan ya?'
Jum'at, 4 Desember 2009 - 15:55
Fahmi Firdaus - Okezone
ilustrasi demonstrasi.(foto: dok SI)
JAKARTA - Mengenakan jaket jins biru dan make up tebal, Ela (40) berada di antara puluhan pendemo Barisan Rakyat Anti Korupsi di depan Istana Negara, Jumat siang (4/12/2009).
Sesekali dia menyambung teriakan orator yang berteriak-teriak dengan bantuan sound system. "Usut Bank Century, usut Bank Century," teriak Ela mengikuti yel-yel yang dikomandoi orator.
Tak lama, Ela sudah terlihat bosan dan kegerahan. Berulang kali dia celingak-celinguk ke belakang ke arah pohon yang berdiri di samping pagar Monas. Ela yang membawa payung bercorak bunga-bunga itu pun akhirnya surut dari barisan dan memilih berteduh.
Sambil beristirahat, Ela bercerita dia hanya ikut berdemo lantaran diajak oleh seorang pengumpul massa. Dia tidak mau menyebut namanya, namun kata dia selain dia,ibu-ibu dan anak-anak yang ikut dalam demo itu adalah tetangganya satu RT.
Soal kasus Bank Century Rp6,7 triliun? "Waduh, Bank Century aja kita enggak tahu banknya yang mana. Bank Century apaan ya? Kita cuma ikut-ikutan saja satu RT. Rp6,7 triliun banyak banget kali ya," jawab Ela dengan logat Betawi yang kental.
Ela mengaku berasal dari Sunter dan ikut bus Metro Mini yang disediakan panitia aksi. Motifnya cuma satu, yaitu berharap ada uang tambah untuk uang belanja keluarganya.
"Kalau duitnya sih kita belum dapat nih. Ya nambah-nambahin uang belanja aja dah," jawab Ela polos.
Salah seorang demonstran lain, bernama Adam juga terlihat sedang melepas lelah di bawah pohon.Dia mengaku kepanasan dan memilih berteduh sejenak sambil melihat dari jauh orator yang sedang berteriak-teriak.
"Panas bang, ngadem dulu," ujar Adam.
Adam mengaku datang bersama 50 an tetangganya dari Sunter. Pelajar kelas SMA swasta di Pademangan Jakarta Utara ini mengatakan dirinya memang sering ikut berdemonstrasi. Sekali ikut demo, biasanya dia mendapat bayaran Rp40 ribu.
"Kami ada 50 an orang dari Sunter. Soal bayaran Sekarang belum (dibayar) nih bang," ujarnya seraya mengisap rokok.
Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Firly, yang berada di lokasi mengatakan pihaknya tidak bisa melarang adanya massa demo bayaran termasuk dilibatkannya anak-anak dalam demonstrasi, sebab hal itu tidak ada di undang-undang.
"Itu urusan mereka dibayar atau tidak. Tidak ada undang-undang melarang anak-anak ikut demo kecuali kampanye," jelasnya.
Kapolsek Gambir Kompol Yosi Runtukahu mengakui banyak aksi demonstrasi yang melibatkan massa yang tidak jelas. Untuk demo kali ini dia juga mengaku mengetahui dari mana asal para pendemo.
"Mereka dari Sunter dan Johar Baru," ungkapnya. (fit)
Kamis, 29 Oktober 2009
ilmu tanah
tergantikan, terutama dalam proses panjang pertanaman untuk memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, papan dan kegiatan lain dalam skala
industri. Produk tanaman lebih banyak ditentukan oleh asupan nutrisi
tanaman yang sebagian besar terjadi di dalam ZONA AKAR (interaction space between soil and plant). Tanah
dengan sifat-sifatnya serta kualitas kesuburan yang diberikannya
menjadi modal pokok dalam proses produksi pertanaman. Dengan demikian
tanah sebagai medium tumbuh dan "tempat berpijaknya segala aktivitas"
mutlak harus dijaga kelestariannya agar tetap menjadi "buffer"
bagi siklus yang terjadi dalam ekosistem kita.
Senin, 26 Oktober 2009
Mahasiswa Minta Pemerintah Wujudkan Kedaulatan Pangan
6/10/2009 17:50 WIB oleh irsan
Kategori: Berita Terkini
Medan, 6/10 (ANTARA) – Puluhan mahasiswa dari Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) Sumatera Utara melakukan unjuk rasa di halaman kantor Gubernur Sumut, Selasa, minta pemerintah secepatnya mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
Koordinator pengunjuk rasa, Charles Lumbangaol dalam orasinya mengatakan, aksi yang mereka lakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa tentang kondisi yang dialami petani yang kini masih banyak hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Banyaknya klaim bahwa pertanian di Indonesia sudah lebih baik, dianggap para mahasiswa hanya sebuah isapan jempol semata, terbukti banyaknya petani yang belum sejahtera.
“Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari hasil pertanian, namun ironisnya sejak berpuluh-puluh tahun kondisi petani tetap memprihatinkan,” katanya.
Ia menambahkan, dengan didirikannya bangunan-bangunan di lahan yang menjadi tempat mata pencarian para petani, juga menjadi salah satu penyebab tidak sejahteranya para petani di Indonesia.
“Bagaimana bisa sejahtera, kalau lahan pertanian sudah didirikan bangunan, tidak mungkin para petani menanam padi di atas bangunan yang didirikan itu,” ujarnya.
Aksi yang digelar para mahasiswa itu, juga serentak dilakukan di tiga kota di Indonesia seperti di Makassar, Jakarta dan Yogyakarta dengan tuntutan yang sama.
Salah seorang mahasiswa lainnya, Hashabul Yamin mengungkapkan, pemerintah sudah saatnya menyelesaikan masalah pertanahan yang belum juga selesai di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di Sumut.
Dalam unjuk rasa itu, para mahasiswa juga minta masyarakat memilih produk pertanian dari para petani Indonesia.
“Mari kita beli produk pertanian dari hasil para petani kita sendiri, agar petani Indonesia bisa hidup sejahtera,” katanya.***1***
Tragedi Universitas HKBP Nommensen 2008
Suasana menegangkan sempat melingkupi Kampus Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, saat Sejumlah polisi dari Poltabes Medan dan Polda Sumut datang dan berjaga-jaga di kampus yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan itu. Kehadiran polisi menjadi ‘titik balik’ untuk kedamaian di kampus itu.Kehadiran polisi tidak mendapatkan hambatan berarti. Meski sebelumnya para mahasiswa yang menduduki kampus perguruan tinggi swasta (PTS) itu menentang, namun akhirnya mereka mengizinkan setelah Kapoltabes Medan Kombes Bambang Sukamto memberitahukan maksudnya untuk melakukan dialog.
Selain itu, kehadiran polisi juga untuk mencegah kemungkinan bentrok antar para mahasiswa dengan kelompok dari Yayasan UHN. Apalagi, berdasarkan pengamatan, kelompok yayasan yang mencapai ratusan orang sudah bersiaga dengan kayu pentungan.
Sementara Rektor UHN Medan, Dr Ir Jongkesr Tampubolon MSi, dalam konferensi pers siang itu mengatakan, pihaknya saat ini sedang mendata barang-barang yang rusak ataupun hilang akibat unjuk rasa yang diwarnai pengrusakan oleh sejumlah mahasiswa. Jongkers memastikan, kegiatan administrasi sudah mulai berjalan Sabtu (2/2) hari ini dan perkuliahan akan normal kembali mulai Senin. Kondisi di lapangan, selain kaca-kaca di ruang rektorat, dekan dan dosen berpecahan, saat melakukan penyisiran di lingkungan Kampus UHN aparat keamanan menemukan puluhan bom molotov yang diduga sengaja disiapkan para mahasiswa.
Aksi pengrusakan dan pendudukan kampus oleh sekelompok mahasiswa yang keberatan dengan keputusan Rektorat UHN Medan berakhir damai. Gerbang kampus yang dua hari terakhir dipasang palang sudah dibuka. Para mahasiswa yang dipecat dan diskorsing masih memendam satu harapan: bisa melanjutkan kuliah – demi ayah dan bunda di kampung halaman – meski tidak di UHN.
“Sejak dipecat dan diskorsing, rektorat lepas tangan dan tak mau tahu. Bagaimana kami bisa kuliah lagi, karena tidak ada keterangan apapun yang diberikan. Kebijakan rektorat jangan mempersulit kami. Jika diskorsing, mohon diringankan. Jika dipecat, berikan surat pindahnya. Kami ingin kuliah lagi meskipun tak di sini. Jangan sampai orang tua kami terkena imbas dari semua ini,” ujar Charles Lumban Gaol, mahasiswa semester VII, Fakultas Pertanian UHN, seusai menemui Wakapolda Sumut, Brigjend Pol Djoko Trisno Santoso, di Mapolda Sumut, Jumat.
Charles menemui Wakapolda Sumut bersama 12 rekannya yang senasib. Mereka didampingi mediator mahasiswa dan rektorat, Ketua Pemuda Mitra Kamtibmas (PMK) Sumut, Rajamin Sirait dan Kabid Humas Kombes Pol Aspan Nainggolan. Dalam pertemuan itu, sebagai orang tua, Wakapolda Sumut menjamin mahasiswa UHN yang berseteru dengan rektorat akan memperoleh yang terbaik.
Sedangkan Rajamin Sirait mengatakan, pihaknya selaku mediator untuk perdamaian di UHN telah melakukan negosiasi dengan rektorat untuk mengeluarkan surat pindah bagi 16 mahasiwa yang dipecat dan keringanan skorsing bagi 24 mahasiswa lainnya. “Hasil negosiasi positif. Rektorat memberi lampu hijau dan akan memenuhi permintaan adik-adik mahasiswa itu,” katanya.
“Atas tindakan itu, mereka mengaku bersalah di hadapan wakapolda dan masyarakat juga tentunya. Mereka juga berjanji tidak akan melakukan tindakan anarkis di areal kampus selagi ada penyelesaian dengan kejelasan status mereka,” papar Rajamin.
Karena itu, Aspan meminta kepada mahasiswa atau pihak rektorat yang dipanggil oleh polisi agar datang untuk diperiksa sesuai prosedur hukum. “Sekali lagi, polisi memiliki kebijakan khusus dalam menangani kasus di UHN itu,” tandasnya.
Kamis, 04 Juni 2009
mencari jati diri
Akan tetapi, bagai manakah kita bisa mencapainya? berjuang untuk diri sendiri masih sulit. kesuksesan masih sangat sulit di masa muda, oleh karena termakan idealisme yang sangat kuat. sehingga pada zaman sekarang ini cita - cita kadang - kadang hanya jadi isapan jempol. tanpa di sadari manusia bisa tidak memiliki jiwa yang selama kanak - kanak atau muda dulu ada dalam dirinya.


