Senin, 10 Mei 2010

RI Kembangkan Pelumas dari Tumbuh-tumbuhan


Selasa, 11/05/2010 11:44 WIB
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance
Jakarta - Pemerintah akan mengembangkan penggunaan pelumas berbahan baku tumbuh-tumbuhan (Bio Lube Oil) di tanah air. Pelumas jenis ini sudah mulai digunakan di negara-negara Eropa.

"Kalau tidak salah tumbuhan-tumbuhan yang bisa digunakan sebagai bahan baku pelumas yaitu jarak pagar dan sawit," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Evita Herawati Legowo usai menghadiri Fuels and Lubes ke 4, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (11/5/2010).

Menurut Evita, penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan baku pelumas tersebut, sudah mulai  diteliti oleh lembaga minyak dan gas bumi (Lemigas) dan BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Teknologi).

"Kalau tidak salah IPB juga teliti itu," ungkapnya.

Menurut dia, saat ini negara-negara di Eropa sudah mulai menggunakan pelumas tersebut. Untuk itu, pihaknya akan mendorong agar para produsen pelumas di dalam negeri juga ikut dalam mengembangkan pelumas jenis ini. Karena selain ramah lingkungan, hal ini juga dapat menjadi salah satu bentuk diversifikasi energi.

"Kita mau mendorong produsen pelumas untuk berani coba produksi ini dengan skala besar," kata dia.

(epi/dnl)

Jumat, 19 Maret 2010

Tahanan meninggal karena sakit. Lapas tidak bertanggung Jawab.

Bengkulu, 26  Februari 2010

Tragis benar nasib Sahala Marbun ini. Terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan irigasi D1 Lais, Kuro Tidur, Bengkulu Utara senilai Rp9,22 miliar TA 2007 dan 2008 itu meninggal dunia di kamar nomor 5 Lapas Kelas II A Mallebro Bengkulu.

Selama ini, kamar itulah yang menjadi tempat tinggalnya setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Menurut hasil pemeriksaan medis, Sahala Marbun meninggal akibat serangan jantung yang dideritanya. Sebelumnya, Sahala sudah mengeluhkan penyakitnya malam sebelum meninggal kepada petugas Lapas.

Bahkan keluarga sempat meminta Sahala dibawa ke rumah sakit. Namun tidak dapat izin pihak Lapas, dikarenakan tidak ada surat izin dari pihak pengadilan atau kejaksaan Tinggi Bengkulu.



Kepala Lapas Mallebro Fajar Nurcahyo mengatakan, tidak dapat mengeluarkan tahanan tanpa ada surat izin dari pihak kejaksaan atau pengadilan. Dia mengakui pihak keluarga korban sudah meminta izin, agar Sahala segera diobati. Namun pihak lapas belum bisa memberikan izin tanpa surat dari pihak kejaksaan atau pengadilan.

Pagi hari berdasarkan keterangan penjaga dan teman satu sel, bahwa keadaan korban sudah mulai membaik dan sempat minum teh. Sekitar pukul 11.30 WIB, Jumat (26/2), Fajar mendapat kabar dari penjaga yang piket, bahwa keadaan Salaha kembali memburuk dan mengalami sesak napas.

Kepada salah seorang keluarga korban di rumah sakit, Kasi Pidsus Kejari Wenharnol mengatakan, bahwa korban tersebut bukan tahanan kejaksaan tetapi tahanan hakim, karena masih dalam proses persidangan.

Salah satu keluarga korban, Sitompul, yang ikut menjemput jenazah sangat menyayangkan kejadian yang menimpa kerabatnya itu. Seharusnya korban mungkin bisa diselamatkan kalau saja malam sebelum kejadian korban segera dilarikan ke rumah sakit.

“Seharusnya pihak Kejaksaan memberikan wewenang kepada pihak Lapas dengan alasan kemanusiaan untuk memberikan izin kapada tahanan yang memang sudah sakit dibawa ke rumah sakit. Apalagi, di Lapas tidak memiliki dokter dan sarana kesehatan yang memadai untuk menangani tahanan yang sakit parah. Kami sudah mendatangi Lapas tapi sayang pihak lapas, tidak memiliki wewenang untuk memberikan izin tahanan berobat malam. Nanti, semua tahanan yang sakit bisa mati di lapas. Kalau untuk mendapatkan izin berobat saja urusannya berbelit-belit, yang kita pertanyakan apa tidak ada toleransi bagi tahanan sakit parah," beber Sitompul.

Tahanan yang dituduhkan merugikan negara Rp. 508.000.000,- ini meninggal karena diduga kesalah dari pihak lapas yang tidak bertanggung jawab terhadap tahanan tersebut. yang belum tentu bersalah. Sungguh tidak berperi kemanusiaan pala lapas yang di bengkulu.

Minggu, 06 Desember 2009

BangsaQ yg suka pake Citra Body Lotion untuk kecantikan

Dalam kondisi politik yang semakin hati semakin memanas ini, masyrakat diwajibkan semakin kritis dalam menyikapi segala hal. Cukuplah sudah selama ini berdiam diri. Media - media yg ada di Indonesia jg memiliki Independesi yg diragukan akibat pemberitaan yg kadang pro Pemerintah dan kadang Oposisi pada pemrintah. Tapi disisi lain, itu sanagat baik untuk menambah referensi masyarakat dalam mengambil sikap kritis. Memang apapun dan bagaimanapun jg, yg pro pemerinyah akan banyak karena masih cari - cari muka untuk kepentingannya masing. Akan tetapi satu hal yang harus diacungi jempol adalah katifis yg masih tetap mau bertahan dalam garis keras perjuangan kesejahteraan dan kesehatn politik (kebijakan pemerintah).
Gerakan mahasiswa memang saat ini mash lemah dan kurang mengigit.
Terikan untuk REVOLUSI harus diperkuat 9 Desember 2009.
Hidup Rakyat....................   

Petaniq yg melarat.......

Derita Petani Miskin

Sabtu, 06-12-2008 15:11:43 oleh: ROSI SUGIARTO
Kanal: Opini

“Melarate wis entek-entekan (miskinnya sudah habis-habisan),” demikian keluh seorang istri petani di sebuah desa di Lamongan Jatim, memaknai kehidupannya yang selalu terjerembab dalam perangkap kemiskinan. Begitulah gambaran kehidupan wong cilik yang semakin merana.
Maka alangkah tidak adilnya ketika APBN lebih banyak dihabiskan untuk membangun gedung-gedung kantor yang semakin mewah dan full AC, membeli mobil-mobil dinas yang makin mewah, menaikkan gaji pegawai, pejabat, dan anggota DPR/DPRD yang sudah jauh melampaui UMR. Sementara, orang kecil tertatih-tatih dalam derita.
Petani mau beli pupuk saja harus antre. Apa-apa antre; beli minyak, beli bensin. Cari makan setengah mati, makan nasi aking saja sudah syukur. Beli tahu tempe saja sudah susah. Semakin banyak balita dilanda gizi buruk, semakin banyak insan dilanda kelaparan.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rhoma Irama dalam syair lagu “Indonesia”:
“Seluruh harta kekayaan negara
Hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya
namun hatiku selalu bertanya-tanya
mengapa kehidupan tidak merata
Yang kaya makin kaya
yang miskin makin miskin.”

Jumat, 04 Desember 2009

'Century, Bank Apaan ya?'

Jum'at, 4 Desember 2009 - 15:55

Fahmi Firdaus - Okezone
ilustrasi demonstrasi.(foto: dok SI)

JAKARTA - Mengenakan jaket jins biru dan make up tebal, Ela (40) berada di antara puluhan pendemo Barisan Rakyat Anti Korupsi di depan Istana Negara, Jumat siang (4/12/2009).

Sesekali dia menyambung teriakan orator yang berteriak-teriak dengan bantuan sound system. "Usut Bank Century, usut Bank Century," teriak Ela mengikuti yel-yel yang dikomandoi orator.

Tak lama, Ela sudah terlihat bosan dan kegerahan. Berulang kali dia celingak-celinguk ke belakang ke arah pohon yang berdiri di samping pagar Monas. Ela yang membawa payung bercorak bunga-bunga itu pun akhirnya surut dari barisan dan memilih berteduh.

Sambil beristirahat, Ela bercerita dia hanya ikut berdemo lantaran diajak oleh seorang pengumpul massa. Dia tidak mau menyebut namanya, namun kata dia selain dia,ibu-ibu dan anak-anak yang ikut dalam demo itu adalah tetangganya satu RT.

Soal kasus Bank Century Rp6,7 triliun? "Waduh, Bank Century aja kita enggak tahu banknya yang mana. Bank Century apaan ya? Kita cuma ikut-ikutan saja satu RT. Rp6,7 triliun banyak banget kali ya," jawab Ela dengan logat Betawi yang kental.

Ela mengaku berasal dari Sunter dan ikut bus Metro Mini yang disediakan panitia aksi. Motifnya cuma satu, yaitu berharap ada uang tambah untuk uang belanja keluarganya.

"Kalau duitnya sih kita belum dapat nih. Ya nambah-nambahin uang belanja aja dah," jawab Ela polos.

Salah seorang demonstran lain, bernama Adam juga terlihat sedang melepas lelah di bawah pohon.Dia mengaku kepanasan dan memilih berteduh sejenak sambil melihat dari jauh orator yang sedang berteriak-teriak.

"Panas bang, ngadem dulu," ujar Adam.

Adam mengaku datang bersama 50 an tetangganya dari Sunter. Pelajar kelas SMA swasta di Pademangan Jakarta Utara ini mengatakan dirinya memang sering ikut berdemonstrasi. Sekali ikut demo, biasanya dia mendapat bayaran Rp40 ribu.

"Kami ada 50 an orang dari Sunter. Soal bayaran Sekarang belum (dibayar) nih bang," ujarnya seraya mengisap rokok.

Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Firly, yang berada di lokasi mengatakan pihaknya tidak bisa melarang adanya massa demo bayaran termasuk dilibatkannya anak-anak dalam demonstrasi, sebab hal itu tidak ada di undang-undang.

"Itu urusan mereka dibayar atau tidak. Tidak ada undang-undang melarang anak-anak ikut demo kecuali kampanye," jelasnya.

Kapolsek Gambir Kompol Yosi Runtukahu mengakui banyak aksi demonstrasi yang melibatkan massa yang tidak jelas. Untuk demo kali ini dia juga mengaku mengetahui dari mana asal para pendemo.

"Mereka dari Sunter dan Johar Baru," ungkapnya.
(fit)

Kamis, 29 Oktober 2009

ilmu tanah

Dalam proses produksi tanaman, TANAH sebagai medium tumbuh belum dapat
tergantikan, terutama dalam proses panjang pertanaman untuk memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, papan dan kegiatan lain dalam skala
industri. Produk tanaman lebih banyak ditentukan oleh asupan nutrisi
tanaman yang sebagian besar terjadi di dalam ZONA AKAR (interaction space between soil and plant). Tanah
dengan sifat-sifatnya serta kualitas kesuburan yang diberikannya
menjadi modal pokok dalam proses produksi pertanaman. Dengan demikian
tanah sebagai medium tumbuh dan "tempat berpijaknya segala aktivitas"
mutlak harus dijaga kelestariannya agar tetap menjadi "buffer"

bagi siklus yang terjadi dalam ekosistem kita.

Senin, 26 Oktober 2009

Mahasiswa Minta Pemerintah Wujudkan Kedaulatan Pangan

6/10/2009 17:50 WIB oleh irsan
Kategori: Berita Terkini

Medan, 6/10 (ANTARA) – Puluhan mahasiswa dari Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) Sumatera Utara melakukan unjuk rasa di halaman kantor Gubernur Sumut, Selasa, minta pemerintah secepatnya mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

Koordinator pengunjuk rasa, Charles Lumbangaol dalam orasinya mengatakan, aksi yang mereka lakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa tentang kondisi yang dialami petani yang kini masih banyak hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Banyaknya klaim bahwa pertanian di Indonesia sudah lebih baik, dianggap para mahasiswa hanya sebuah isapan jempol semata, terbukti banyaknya petani yang belum sejahtera.

“Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari hasil pertanian, namun ironisnya sejak berpuluh-puluh tahun kondisi petani tetap memprihatinkan,” katanya.

Ia menambahkan, dengan didirikannya bangunan-bangunan di lahan yang menjadi tempat mata pencarian para petani, juga menjadi salah satu penyebab tidak sejahteranya para petani di Indonesia.

“Bagaimana bisa sejahtera, kalau lahan pertanian sudah didirikan bangunan, tidak mungkin para petani menanam padi di atas bangunan yang didirikan itu,” ujarnya.

Aksi yang digelar para mahasiswa itu, juga serentak dilakukan di tiga kota di Indonesia seperti di Makassar, Jakarta dan Yogyakarta dengan tuntutan yang sama.

Salah seorang mahasiswa lainnya, Hashabul Yamin mengungkapkan, pemerintah sudah saatnya menyelesaikan masalah pertanahan yang belum juga selesai di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di Sumut.

Dalam unjuk rasa itu, para mahasiswa juga minta masyarakat memilih produk pertanian dari para petani Indonesia.

“Mari kita beli produk pertanian dari hasil para petani kita sendiri, agar petani Indonesia bisa hidup sejahtera,” katanya.***1***