Minggu, 06 Desember 2009

BangsaQ yg suka pake Citra Body Lotion untuk kecantikan

Dalam kondisi politik yang semakin hati semakin memanas ini, masyrakat diwajibkan semakin kritis dalam menyikapi segala hal. Cukuplah sudah selama ini berdiam diri. Media - media yg ada di Indonesia jg memiliki Independesi yg diragukan akibat pemberitaan yg kadang pro Pemerintah dan kadang Oposisi pada pemrintah. Tapi disisi lain, itu sanagat baik untuk menambah referensi masyarakat dalam mengambil sikap kritis. Memang apapun dan bagaimanapun jg, yg pro pemerinyah akan banyak karena masih cari - cari muka untuk kepentingannya masing. Akan tetapi satu hal yang harus diacungi jempol adalah katifis yg masih tetap mau bertahan dalam garis keras perjuangan kesejahteraan dan kesehatn politik (kebijakan pemerintah).
Gerakan mahasiswa memang saat ini mash lemah dan kurang mengigit.
Terikan untuk REVOLUSI harus diperkuat 9 Desember 2009.
Hidup Rakyat....................   

Petaniq yg melarat.......

Derita Petani Miskin

Sabtu, 06-12-2008 15:11:43 oleh: ROSI SUGIARTO
Kanal: Opini

“Melarate wis entek-entekan (miskinnya sudah habis-habisan),” demikian keluh seorang istri petani di sebuah desa di Lamongan Jatim, memaknai kehidupannya yang selalu terjerembab dalam perangkap kemiskinan. Begitulah gambaran kehidupan wong cilik yang semakin merana.
Maka alangkah tidak adilnya ketika APBN lebih banyak dihabiskan untuk membangun gedung-gedung kantor yang semakin mewah dan full AC, membeli mobil-mobil dinas yang makin mewah, menaikkan gaji pegawai, pejabat, dan anggota DPR/DPRD yang sudah jauh melampaui UMR. Sementara, orang kecil tertatih-tatih dalam derita.
Petani mau beli pupuk saja harus antre. Apa-apa antre; beli minyak, beli bensin. Cari makan setengah mati, makan nasi aking saja sudah syukur. Beli tahu tempe saja sudah susah. Semakin banyak balita dilanda gizi buruk, semakin banyak insan dilanda kelaparan.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rhoma Irama dalam syair lagu “Indonesia”:
“Seluruh harta kekayaan negara
Hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya
namun hatiku selalu bertanya-tanya
mengapa kehidupan tidak merata
Yang kaya makin kaya
yang miskin makin miskin.”

Jumat, 04 Desember 2009

'Century, Bank Apaan ya?'

Jum'at, 4 Desember 2009 - 15:55

Fahmi Firdaus - Okezone
ilustrasi demonstrasi.(foto: dok SI)

JAKARTA - Mengenakan jaket jins biru dan make up tebal, Ela (40) berada di antara puluhan pendemo Barisan Rakyat Anti Korupsi di depan Istana Negara, Jumat siang (4/12/2009).

Sesekali dia menyambung teriakan orator yang berteriak-teriak dengan bantuan sound system. "Usut Bank Century, usut Bank Century," teriak Ela mengikuti yel-yel yang dikomandoi orator.

Tak lama, Ela sudah terlihat bosan dan kegerahan. Berulang kali dia celingak-celinguk ke belakang ke arah pohon yang berdiri di samping pagar Monas. Ela yang membawa payung bercorak bunga-bunga itu pun akhirnya surut dari barisan dan memilih berteduh.

Sambil beristirahat, Ela bercerita dia hanya ikut berdemo lantaran diajak oleh seorang pengumpul massa. Dia tidak mau menyebut namanya, namun kata dia selain dia,ibu-ibu dan anak-anak yang ikut dalam demo itu adalah tetangganya satu RT.

Soal kasus Bank Century Rp6,7 triliun? "Waduh, Bank Century aja kita enggak tahu banknya yang mana. Bank Century apaan ya? Kita cuma ikut-ikutan saja satu RT. Rp6,7 triliun banyak banget kali ya," jawab Ela dengan logat Betawi yang kental.

Ela mengaku berasal dari Sunter dan ikut bus Metro Mini yang disediakan panitia aksi. Motifnya cuma satu, yaitu berharap ada uang tambah untuk uang belanja keluarganya.

"Kalau duitnya sih kita belum dapat nih. Ya nambah-nambahin uang belanja aja dah," jawab Ela polos.

Salah seorang demonstran lain, bernama Adam juga terlihat sedang melepas lelah di bawah pohon.Dia mengaku kepanasan dan memilih berteduh sejenak sambil melihat dari jauh orator yang sedang berteriak-teriak.

"Panas bang, ngadem dulu," ujar Adam.

Adam mengaku datang bersama 50 an tetangganya dari Sunter. Pelajar kelas SMA swasta di Pademangan Jakarta Utara ini mengatakan dirinya memang sering ikut berdemonstrasi. Sekali ikut demo, biasanya dia mendapat bayaran Rp40 ribu.

"Kami ada 50 an orang dari Sunter. Soal bayaran Sekarang belum (dibayar) nih bang," ujarnya seraya mengisap rokok.

Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Firly, yang berada di lokasi mengatakan pihaknya tidak bisa melarang adanya massa demo bayaran termasuk dilibatkannya anak-anak dalam demonstrasi, sebab hal itu tidak ada di undang-undang.

"Itu urusan mereka dibayar atau tidak. Tidak ada undang-undang melarang anak-anak ikut demo kecuali kampanye," jelasnya.

Kapolsek Gambir Kompol Yosi Runtukahu mengakui banyak aksi demonstrasi yang melibatkan massa yang tidak jelas. Untuk demo kali ini dia juga mengaku mengetahui dari mana asal para pendemo.

"Mereka dari Sunter dan Johar Baru," ungkapnya.
(fit)